Tentang Desa Wonodadi Wetan Ngadirojo Pacitan

Wonodadi Wetan adalah salah satu desa di kawasan Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Indonesia.... Artikel selengkapnya silahkan menuju ke bawah.
Tentang Desa Wonodadi Wetan Ngadirojo Pacitan

Wonodadi Wetan adalah salah satu desa di kawasan Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Indonesia. Terletak 3,5 Km dari Kecamatan. Desa Wonodadi Wetan mempunyai luas wilayah 302,005 Ha. Karena Desa Wonodadi Wetan merupakan Desa pertanian, maka sebagian besar penduduknya mata pencaharian sebagai petani.

Desa Wonodadi Wetan


Desa Wonodadi Wetan terdiri dari 6 dusun :
- Dusun Krajan
- Dusun Sambi
- Dusun Ngobal
- Dusun Bondalem
- Dusun Katir
- Dusun Batang

Geografi

Batas wilayah Desa Wonodadi Wetan :
- Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ketanggung Kec. Sudimoro
- Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bogoharjo
- Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Wonodadi Kulon
- Di sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karang Mulyo Kec. Sudimoro

Peta Desa Wonodadi Wetan

Sejarah Desa Wonodadi Wetan

Dahulu Desa Wonodadi Wetan terdiri 7 dusun antara laian : 1).Dusun Krajan, 2).Dusun Ketos, 3). Dusun Sambi, 4). Dusun Tawang, 5). Dusun Pager, 6). Dusun Bondalem, 7). Dusun Batang, pada saat pemerintahan dipeganng seorang Lurah yang bernama “ Kromontiko “ setelah  Pak Kromontiko meninggal digantikan anaknya yang bernama “ Poncowikromo “ tahun 1890-1939 (± 40 tahun ) dan pada tahun 1918, pada masa Pak Poncowikromo diadakan klangsiran  yang mengakibatkan pertukaran 2 dusun atara Katir dan Ngobal menjadi wilayah Wonodadi Wetan dan dusun Tawang dan Pager masuk wilayah Wonodadi Kulon, untuk mempermudah penataannya dan pada saat itu sudah menjadi Peta yang sampai sekarang ini .

Silsillah dusun :

Dusun Krajan
Karena lokasi pedusun tersebut dalam dan luas juga penghuninya antara lain Lurah,Carik, Disitu maka dusun tersebut dinamakan dusun Krajan . Dusun tersebut berdekatan dengan aliran sungai lama kelamaan habis terkikis aliran sungai dan sekarang tinggal 4 KK maka dusun tersebut dijadikan satu dengan dusun Ketos. Jadi dusun tersebut masuk wilayah Ketos jadi dusun Krajan Ketos / Kraket.

Dusun Ketos
Pada jaman dulu dusun tersebut banyak batu-batu besar yang mengakibatkan orang-orang ( janji mingket kejotos ) Jawa maka dusun tersebut dinamakan Ketos.

Dusun Katir
Di situ dahulu daerah persawahan yang subur biarpun tidak seberapa luas dan untuk aliran Persawahan tersebut perlu diberi katiran (parit) untuk mengairi sawah tersebut maka Dusun tersebut dinamakan Katir.

Dusun Bondalem
Pada jaman Belanda dusun tersebut merupakan daerah perkebunan kopi subur, dan suatu hari ada orang Belanda yang bertanya “ ini kebun siapa “ Niki Kebondalem “ maka dusun tersebut di namakan Bondalem. Tetapi kebun yang dulu subur itu sekarang tinggal 1/5 bagian yang dayar habis di kikis aliran sungai.

Pemerintah Pak Ponco Wikromo berakhir tahun 1939 dan di gantikan anaknya bernama Kariyo Arjo > Pemerintah Pak Kariyo Arjo mulai tahun 1939 – 1950. Setelah Pak Kariyo Arjo meninggal ini desa mengadakan pemilihan lurah, yang terpilih Pak Porto Wiyono (Paroso) tidak berlangsung lama (1000 hari) tahun 1953 – 1965. Setelah itu desa mengadakan pilihan lagi, yang terpilih Pak Porto Sudiro yang masih keturunan Pak Kariyo Atjo beliau menjabat tahun 1953 – 1965 dan pada saat itu Pak Porto Sudiro dihentikan, karena tersangkut G 30 S.PKI., dan digantikan pejabat sementara Pak Joyo Taruno ± 2 tahun, tahun 1967 diadakan pemilihan lurah terpilih seorang pensiunan ABRI, pak Daim. Pada saat lurah Pak Daim desa Wonodadi Wetan agak sedikit mengalami kemajuan karena adanya REPELITA.

Dan pada saat itu pula masyarakat merasakan ada perkembangan, karena tahun-tahun pemerintahan diatas Pak Daim masih tejadi paceklik setiap habis kemarau panjang. Setelah Pak Daim mempelopori pemberantasan hama pertanian seperti tikus, kera, dll. Beliau berani berkorban setiap masyarakat Ketanggung kirim ekor kera diberi imbalan setiap ekornya Rp.5,-. Pada tahun 1967 sampai hama tersebut habis, maka habislah kera di desa kami. Seperti tanaman cengkih itupun pelopor Pak Daim. Pembangunan mulai maju selangkah demi selangkah.

Sejarah Pembangunan Desa Wonodadi Wetan

Sebelum tahun 1969 di desa kami belum/kurang mengenal apa arti Pembangunan. Yang akhirnya di Desa kami khususnya dan kecamatan wilayah kami pada umumnya sering terjadi paceklik yang mana mengakibatkan berbagai musibah (kelaparan, penyakit bahkan kematian). Setelah adanya REPELITA setahap demi setahap bisa teratasi. Namun belum mencapai keinginan masyarakat di saat sekarang dan masih banyak yang harus diselesaikan/dibangun. Di tahun-tahun yang telah lalu sistem pembangunan dari pusat kurang tepat sasaran dan akhirnya ada beberapa bangunan yang kurang berfungsi.

Setelah adanya Reformasi di Desa kami banyak kemajuan yang dicapai antara lain: Peremajaan perangkat, terbentuknya BPD, reorganisasi kelembagaan dan kebebasan masyarakat menentukan pilihan-pilihannya semakin terjamin dan tidak ada hambatan. Demikian juga seperti pada masa otonomi daerah seperti sekarang ini menuntut setiap Desa mendukung kegiatan otoda dengan mempersiapkan Desa kita, merencanakan, melaksanakan pembangunan secara mandiri dengan melibatkan semua unsur masyarakat.

Dengan begitu jika desa menjadi mandiri secara tidak langsung tujuan otonomi daerah bisa terwujud.
Maka desa Wonodadi Wetan kita harus bahu-membahu untuk membangkitkan kesadaran masyarakat dengan menjadi budaya gotong-royong masyarakat dengan adanya kerjasama gotong-royong diharapkan desa mampu menyelesaikan masalah sendiri.